Tampilkan postingan dengan label metode mengajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label metode mengajar. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Mei 2021

Kumpulan Metode Pembelajaran Online, PJJ Offline, dan Tatap Muka



Berikut ini adalah kumpulan metode-metode mengajar online, pembelajaran jarak jauh offline, dan pembelajaran tatap muka.

A. Metode-Metode Pembelajaran Online

1. Game Bersama Guru

    a. Tebak Gambar: Guru menyembunyikan gambar/bagan lalu memberikan petunjuk. Siswa menebak secara bergantian. Dapat pula siswa menggambar dan siswa lain menebak secara bergantian.

    b. Teka-teki layar. Guru menayangkan teka-teki di layar, siswa menjawab bergantian atau melalui chat.

    c. Kategori kata. Guru meminta siswa menulis kata, lalu memberikan petunjuk. Siswa lain menebak langsung bergantian atau menulis jawaban di chat.

    d. Treasure Hunt.. Guru memberi teka-teki benda di rumah. Lalu guru memberikan waktu lima menit bagi siswa untuk menunjukkan barang-barang yang dimaksud di layar.

2. Game Online menggunakan kahoot, quiziz, atau quizlet

3. Tanya-Jawab dan Wawancara. Guru melakukan tanya-jawab atau wawancara dengan siswa tentang topik yang dibahas.

4. Online Group Sharing atau Diskusi. Para siswa berkumpul secara online untuk melakukan sharing. Setelah selesai, siswa melaporkan hasil sharing/diskusi kepada guru.

5. Video Explainer diikuti dengan mengerjakan tugas atau membuat laporan. Guru menugaskan siswa menyimak video explainer dan diikuti dengan pemberian tugas.


B. Metode-Metode Pembelajaran Jarak Jauh Offline

1. Modul Belajar. Guru menyediakan modul belajar yang terdiri dari topik, tujuan pembelajaran, materi belajar, tugas-tugas disertai rubrik penilaiannya, langkah-langkah mengerjakan tugas, dan penilaian.

2. Proyek/ Aktivitas. Siswa membuat proyek yang dikumpulkan kepada guru, misalnya prakarya, peta, dsb. Guru memberikan komentar dan nilai kepada siswa.

3. Karya Tulis Ilmiah. Siswa membuat karya tulis ilmiah dan dikirimkan ke guru untuk dinilai. Guru memberikan umpan balik perbaikan, lalu siswa mengirim perbaikannya.

4. Resensi Buku. Siswa meresensi buku dan resensi dikirimkan ke sekolah untuk dinilai. Umpan balik dikirimkan kembali ke siswa.

5. Tugas-Tugas. Siswa mengerjakan tugas di buku teks, lalu jawaban dikirimkan ke sekolah. Guru memberikan umpan balik berupa nilai dan komentar, lalu hasilnya dikembalikan lagi kepada siswa. Siswa mengirimkan perbaikan.


C. Metode-Metode Pembelajaran Tatap Muka

1. Ceramah atau lecturing. Menyampaikan informasi dari guru kepada siswa

2. Pembicara Tamu. Mengundang pembicara tamu  misalnya alumni, orang tua, siswa dari kelas lain, dokter, atau ahli, dsb.

3. Sharing Board / Sharing Table. Guru dan siswa memakai board atau table untuk bertukar informasi dan jawaban-jawaban. Informasi ditempel di papan atau meja tertentu. 

4. Story on the Board. Guru dan siswa menempelkan cerita/permasalahan di papan yang besar. Guru dan siswa lain menempelkan lanjutan cerita/jawaban atas permasalahan. Demikian seterusnya dalam sebuah alur yang sudah ditentukan di papan. Ciri dari Story on the Board adalah urutannya yang kronologis.

5. Game. kegiatan bermain sambil belajar atau kegiatan belajar sambil bermain

6. Diskusi. Proses tukar pikiran antara guru dengan siswa atau antara siswa dengan siswa lainnya

7. Presentasi. Siswa atau sekelompok siswa memaparkan atau mendeskripsikan hasil riset, kegiatan belajar, kegiatan kelompok, dsb. 

8. Debat. Siswa mempertahankan pendapatnya agar orang lain menganggap bahwa pendapatnya adalah benar

9. Musyawarah. Proses pengambilan keputusan melalui  perundingan untuk mencapai konsensus atau kata sepakat(mufakat)

10. One on one. Pendekatan bimbingan pribadi guru kepada seorang siswa

11. Bimbingan kelompok. Guru berkeliling untuk membantu kelompok

12. Pameran. Menonton atau memamerkan berbagai ragam hasil studi (riset) atau tugas terstruktur yang telah diberikan oleh guru

13. Alih teks. Siswa menuangkan pemahaman / informasi dalam bentuk tertentu (misalnya majalah dinding, komik, dsb.)

14. Jigsaw. Siswa berkumpul dalam kelompok. Tiap kelompok menguasai satu materi atau keahlian yang akan dibagikan dengan kelompok lain.

15. Role play. Melibatkan siswa dalam situasi yang seolah-olah terjadi seperti dalam dunia nyata.


Picture: pixabay.com 


Rabu, 05 Mei 2021

Bagaimana Agar Blended Learning Berkualitas

Blended learning menjadi pilihan dalam kenormalan baru akibat Pandemi Covid-19. Blended learning atau juga disebut sebagai hybrid learning ini memadukan antara pembelajaran jarak jauh dengan pembelajaran tatap muka. Namun, bisa juga dalam konteks kedua-duanya pembelajaran jarak jauh, antara jarak jauh online (dalam jaringan) dan jarak jauh tidak offline (luar jaringan). Jarak jauh online berarti siswa belajar melalui internet dan berinteraksi dengan gurunya pun melalui internet. Sedangkan jarak jauh offline siswa tidak menggunakan internet, melainkan mengambil dan mengirimkan tugas dari dan ke sekolah.

Mulai tahun pelajaran 2021-2022 kementrian pendidikan mewajibkan setiap sekolah untuk memberikan opsi tatap muka. Jadi, pembelajaran mulai Juli 2021 ada yang online dan ada pula yang tatap muka. Hal itu memunculkan beberapa permasalahan. Pertama, penjadwalan berkaitan dengan siapa saja dan kapan guru mengajar online dan offline. Apakah sekaligus akan online dan offline, ataukah bergantian? Kedua, materinya apakah yang online dan offline sama? Ketiga, adalah skenario tiba-tiba semua harus kembali online atau pembelajaran jarak jauh, dan sebagainya.

Bagaimana agar blended learning berkualitas? Berikut ini tips atau saran-sarannya.

1. Rencana Pelajaran Satu Tahun

Sekolah perlu memiliki rencana pelajaran satu tahun yang baik dan masuk akal dengan memperhatikan (a) Jumlah pertemuan, (b) durasi setiap pertemuan, (c) sarana prasarana yang dimiliki oleh siswa dan guru. Rencana pelajaran satu tahun tersebut perlu diketahui bersama antara guru, siswa, dan orangtua.

Rencana pelajaran tersebut perlu diketahui bersama oleh guru, siswa, dan orangtua dan dapat disajikan dalam LMS (Learning Management System) atau e-learning, tetapi dapat pula dalam bentuk PDF File atau print-out dan dibagikan kepada siswa dan orangtua.

2. Fokus Pada Keterampilan 4C

Banyak ahli pendidikan sepakat mengenai keterampilan 4C untuk menyiapkan anak di masa depan. Keterampilan 4C tersebut adalah collaborative, creative, communicative, dan critical thinking. Dengan kata lain, sekolah fokus pada mengembangkan kemampuan siswa untuk bekerja sama dalam tim, berkreasi dengan apa yang mereka miliki, mampu berkomunikasi dengan baik (secara lisan, online, maupun tulisan), serta memiliki kemampuan berpikir kritis seperti mengemukakan pertanyaan dan membuat kesimpulan-kesimpulan.

3. Kembangkan Heutagogi

Heutagogi atau self-determined learning perlu dikembangkan di setiap tahap pendidikan. Heutagogi adalah mengenai bagaimana caranya agar anak memiliki tekad (bukan hanya keinginan) untuk belajar mandiri. Kemampuan anak-anak kita untuk belajar mandiri dan memiliki motivasi yang kuat akan membawa mereka menjadi pembelajar seumur hidup, kapanpun dan di manapun. Seperti apa yang dikatakan oleh Maria Montessori bahwa seorang guru yang berhasil adalah ketika siswa belajar pada saat gurunya tidak ada.

Jadi, meskipun para siswa berada di rumah dan tanpa pengawasan, mereka tetap memiliki keinginan yang kuat untuk belajar. Mereka perlu tahu mengapa mereka belajar, bagaimana, dan apa yang akan terjadi jika mereka belajar dengan baik.

Demikian tiga tips ini semoga sekolah-sekolah di Indonesia mampu menyajikan layanan pendidikan berkualitas dalam bentuk blended learning. (Penulis: Sigit Setyawan, S.S., M.Pd.)

BEBERAPA AKTIVITAS PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN MINECRAFT FOR EDUCATION SEBAGAI METAVERSE

(Sigit Setyawan, S.S., M.Pd  -  sigitsetyawan.com ) Berikut ini adalah beberapa aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru dan si...